Searching...
Monday, April 7, 2014

Amerika Bersiap Invasi Eropa Timur, Russia Tidak Gentar, Bagaimana Indonesia ?

4:53 PM


Russia Today dalam laporannya, Jumat (04/04/2014) menyebut, Pemerintah Rusia langsung menyiagakan kekuatan militer penuh menyusul langkah Amerika Serikat (AS) dan NATO yang terus memperbanyak pasukan di Eropa Timur, ketegangan makin memanas karena kapal perang lain AS dikirim menuju Laut Hitam dan makin memicu meningkatnya ketegangan.

Pentagon berdalih kapal perang baru itu untuk menggantikan kapal perusak pemandu rudal, USS Truxtun dalam partisipasi militer dengan Angkatan Laut Bulgaria dan Rumania.

Sementara itu, USS Donald Coogoogk and USS Ramage kini ditempatkan di Mediterania timur. Dua kapal perusak Amerika itu berpartisipasi dalam latihan militer dengan Angkatan Laut Yunani dan Israel.

Kapten Gregory Hicks dari Komando Eropa AS mengatakan bahwa pihaknya berencana memenuhi seruan pejabat AS dan NATO untuk mempertahankan kehadiran pasukan maritim di Mediterania timur dan Laut Hitam.

Pemerintah Rusia sendiri menyikapi hadirnya pasukan militer Barat dengan mengaktifkan semua kekuatan militer yang mereka punya.

Siap tempur, Putin perintahkan militer Rusia Siaga-I

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov meminta NATO menjelaskan rencana barunya meningkatkan kehadiran pasukan militer di Eropa Timur.

Dilansir AFP, Jumat (04/04/2014), Lavrov mengatakan negaranya sedang menunggu penjelasan NATO tentang rencana aliansi militer itu mengintensifkan kegiatan di negara-negara Eropa Timur.

�Kami telah bertanya pada NATO. Kami mengharapkan bukan sekedar jawaban tapi jawaban sepenuhnya yang menghormati aturan yang kita telah koordinasikan,� tegas Lavrov.

Sementara itu, di Kremlin, Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintah Menteri Pertahanan agar militer dalam kondisi siaga I atau siap tempur. Bahkan, pangkalan AL Rusia di Laut Hitam sudah menerima order Moskow tentang status siaga I yang diperintkan Presiden Putin.

Akhirnya, Rusia pilih check out dari kerjasama NATO

Pemerintah Rusia resmi keluar dan menarik Valery Yevnevich, kepala perwakilan militernya di NATO menyusul sikap AS dan Barat yang terus menebarkan permusuhan kepada pemerintah di Moskow.

�Kami tidak melihat kesempatan untuk melanjutkan kerjasama militer dengan NATO, mereka terus menebarkan kebencian,� ujar Wakil Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Antonov, Jumat (04/04/2014), dilansir Ria Novosti.

Penarikan Valery Yevnevich mengikuti menyusul keputusan NATO pekan ini yang menangguhkan kerjasama dengan Rusia setelah wilayah Crimea menyatakan kemerdekaannya dari Ukraina.

Langkah keluar Rusia itu mengagetkan Pemerintah Amerika Serikat. Dengan keluarnya NATO, maka Rusia sudah tidak lagi menilai NATO sebagai aliansi mitra, melainkan sebagai musuh.

Putin permalukan Obama, telepon 3 kali ditolak terus

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama kena batunya. Karena tak percaya Rusia keluar dari kerjasama NATI, Obama menelepon Presiden Vladimir Putin. Namun, Putin ogah menerima telepon Obama, meski penguasa Gedung Putih itu berusaha menghubunginya sebanyak 3 kali.

Dilaporkan New York Daily, Jumat (04/04/2014), kejadian itu diungkapkan staf kepresiden di Grand Kremlin, yang menyebut telepon Obama hanya dijawab oleh staf Putin.
obama-phone call

Dalam telepon yang ketiga, staf Putin menjelaskan kalau Presiden Rusia itu menolak berbicara dengan Obama. Namun tidak dijelaskan apa maksud Putin untuk kali pertama itu menolak berhubungan telepon dengan Obama.

�Presiden Putin sangat tidak berkenan menerima telepon Presiden Obama. Ini adalah kejadian pertama dan tentu saja Obama malu akan hal ini,� ujar Joseph Vledovich, salah satu staf kepresidinen di Kremlin. Pihak Gedung Putih sendiri menolak memberikan pernyataan tentang aksi penolakan Putin menerima telepon Obama.

Presiden Putin janjikan �Kiamat Ekonomi� untuk Amerika

Rusia dan Amerika Serikat (AS) kini sudah resmi berperang. Meski kontak senjata belum diletuskan, namun perang ekonomi sudah dimulai.

AS memulainya dengan penjatuhan sanksi ekonomi bagi perusahaan dan perbankan Rusia dan kini sanksi itu dibalas Rusia dengan menaikkan harga pasokan gas dan penolakkan penggunaan mata uang dollar AS dalam berbagai transaksi.

Presiden Rusia, Vladimir Putin dilansir Russia Today, Sabtu (05/04/2014) menyatakan, Rusia memiliki kemampuan memukul balik sanksi yang dijatuhkan AS.

�Mereka sepertinya lupa bahwa kami adalah sebuah kekuatan energi besar yang mampu menolak dollar AS untuk melunasi hutang kami dan untuk cadangan energinya. Jika kalian tetap dengan sikap bermusuhan kalian, Rusia akan membuat ekonomi kalian kiamat,� tegas Putin.

Kebijakan terbaru Rusia itu menyusul makin meningkatnya ketegangan eskalasi di krisis Ukraina pasca Crimea bergabung ke Rusia. Eric Draitser, seorang analis Wall Street, dilansir Financial, menyebut bahwa kini Rusia memasok lebih dari 1/3 gas untuk Eropa.

�Jika Amerika dan Eropa berupaya melakukan eskalasi situasi terus-menerus dan Rusia juga melakukan aksinya maka akan terjadi depresiasi euro dan dollar yang pada gilirannya akan memicu kerusuhan dalam pasar global,� ujarnya.

Menurut Draitser, Rusia sangat mudah membuat Eropa kesulitan dalam mengakses kebutuhan gas.

�Saya pikir semua orang sangat ingin menghindari perang, saling tembak, terutama dengan senjata nuklir dimana Rusia jelas-jelas memilikinya. AS memilih menekan Rusia lewat perang ekonomi, tapi Rusia punya senjata utama, yakni kekuatan pasokan gas,� pungkas Draitser.

Rusia naikkan harga gas 80 persen, Uni Eropa menjerit!

Janji Rusia untuk membuat negara-negara Barat menyesal karena mengikuti langkah Amerika Serikat (AS), akhirnya dibuktikan. Terhitung sejak Sabtu (05/04/2014) hari ini, pemerintah Rusia menaikkan tarif kenaikan harga pasokan gas ke Eropa dan Ukraina sebesar 80 persen.

Aksi ini diduga sebagai jawabam atas sanksi yang diberikan AS dan Eropa kepada Rusia atas krisis di Ukraina.

Dilansir pada Sabtu (05/04/2014), Kementerian Energi Rusia, dalam pernyataan resminya menyatakan, jika ada negara di Eropa yang tidak sanggup, maka Moskow akan menghentikan pasokan gas pada negara itu.
dollar collapse ekonomi AS jatuh

Kabar dinaikkanya harga gas oleh Rusia itu langsung memantik kericuhan di kalangan pemimpin Eropa. Namun sejauh ini, belum ada pemimpin Eropa yang mengomentari kebijakan Rusia itu.

Pemerintah AS langsung bereaksi keras dengan langkah terbaru Rusia ini. Wakil Presiden AS Joe Biden berjanji akan bekerja dengan Ukraina dan sekutu lainnya untuk mencegah negara-negara seperti Rusia menggunakan energi sebagai senjata.

�Kita akan bekerjasama dan tidak akan membiarkan Rusia menggunakan energi sebagai senjata. Kita akan bersama-sama memenuhi kebutuhan paling mendesak itu,� tegas Biden.

Source : http://forum.viva.co.id/politik/1568...n-pasukan.html

0 comments: