Searching...
Saturday, April 19, 2014

Inilah Tantangan Terbesar JKT48 Untuk Sukses Di Indonesia.

11:02 PM


Mohon maaf apabila



Maapin sob Gue bikin Thread lagi, jadi harap maklum kalo masih berantakan dan terlalu sederhana. Namanya juga lagi belajar.

Dijamin, No Repsol.


Quote:
Bismillahirrahmanirrahim



JKT48



Seperti yang kita tahu, JKT48 merupakan salah satu sister group dari AKB48 di Indonesia. Tak perlu diragukan lagi, kesuksesan AKB48 di Jepang sangatlah luar biasa. Idol grup ini mampu menduduki posisi teratas dalam budaya J-Pop, bahkan sudah memiliki nama besar dan jutaan fans internasional. Tidak hanya itu, para member AKB48 juga secara rutin muncul di berbagai media Jepang, baik sebagai bintang iklan, aktris film, penyanyi solo, model, maupun tampil dalam acara-acara variety show.

Kira-kira, bisakah JKT48 menjadi sesukses AKB48? Tak perlu jauh-jauh berharap meraih sukses di dunia internasional, setidaknya mendapatkan tempat yang elit dalam dunia hiburan Indonesia dulu saja.

Dalam thread ini, gue akan mencoba menganalisa berbagai faktor yang menjadi tantangan sekaligus batu sandungan terbesar bagi JKT48 jika ingin sukses di Indonesia. Tantangan-tantangan ini tentu saja harus mampu diatasi apabila JKT48 ingin menjadi sesukses AKB48. Berikut faktor faktornya, silahkan disimak...


1. Perbedaan Kebudayaan Antara Jepang Dan Indonesia

Quote:

JKT48 merupakan franchise dari AKB48 yang berasal dari Jepang. Yang perlu disadari, ada beberapa perbedaan budaya yang signifikan antara Jepang dan Indonesia. Beberapa faktor terpenting yang membuat AKB48 sukses besar di Jepang bahkan tidak bisa diterapkan oleh JKT48 di Indonesia.

Perbedaan paling signifikan adalah budaya "idoling" atau "ngidol." Di Jepang, konsep idol group sudah dikenal masyarakat dan dianggap sebagai bagian dari dunia hiburan sejak tahun 1970-an. Masyarakat Jepang menganggap aktivitas mengidolakan artis-artis berusia remaja yang tampil dengan berbagai kostum imut-imut sebagai suatu hal yang wajar. Sama seperti fenomena otaku, aktivitas idoling di Jepang sudah merupakan bagian dari budaya modern, bahkan dianggap sebagai suatu jalan hidup.

Berbeda dengan kondisi di Indonesia, di mana JKT48 adalah perintis idol grup pertama di negara ini. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mengidolakan gadis-gadis remaja yang melakukan performance dengan rok pendek dan kostum imut-imut masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar. Bahkan, tak sedikit yang menganggap aktivitas idoling adalah suatu penyimpangan, sebagai suatu hal yang kurang pantas untuk dilakukan. Pendapat yang lebih ekstrim lagi, aktivitas idoling terkadang dianggap salah satu bentuk lain dari "pedofilia." Tentu saja, fenomena ini membuat JKT48 menghadapi tantangan yang sangat besar dalam menjaring fans lokal. Orang yang berniat untuk menjadi fans JKT48 pun berpikir harus berpikir keras sebelum mendeklarasikan dirinya sebagai seorang fans, mengingat berbagai anggapan negatif dari masyarakat.

Ada pula berbagai perbedaan-perbedaan minor antara Jepang dan Indonesia yang membuat JKT48 sulit memperoleh popularitas di negaranya sendiri. Contohnya adalah dalam hal norma kesopanan dan kepantasan dalam berpakaian. Di Jepang, para member AKB48 sangat sering ditampilkan dalam video klip dengan memakai pakaian renang dan busana-busana seksi. Tak hanya itu, selain penjualan single, salah satu pendapatan terbesar AKB48 adalah melalui penjualan photobook. Dalam photobook tersebut, para member AKB48 banyak difoto dengan gaya "gravure" alias dalam busana yang seksi dan menggoda. Tak bisa dibantah, penampilan seksi dari para member AKB48 menjadi salah satu faktor terbesar yang membantu mengangkat popularitas mereka di Jepang. Jelas, konsep menampilkan member JKT48 dengan busana-busana seksi dalam berbagai media sama sekali tidak bisa diterapkan di Indonesia yang masyarakatnya jauh lebih konservatif. JKT48 tidak bisa mengandalkan keseksian seperti AKB48, dan manajemen mereka harus berpikir lebih keras dan mencari faktor lain yang bisa diangkat untuk menaikkan popularitas idol group ini.

Nah, karena perbedaan kultur inilah JKT48 menghadapi tantangan yang cukup berat untuk bisa populer di Indonesia. Pihak manajemen harus berusaha dengan baik untuk menemukan jalan tengah, mengambil budaya-budaya khas Jepang yang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Jika terlalu sedikit budaya Jepang yang diambil, JKT48 nantinya tak memiliki nilai khusus dan akan terlihat sama dengan kebanyakan girlband atau artis Indonesia lainnya. Jika hal ini terjadi, bisa dipastikan eksistensi JKT48 tak akan bertahan lama.

Sebaliknya, jika terlalu banyak mengadaptasi budaya Jepang, terlebih lagi nekat mengadaptasi budaya yang tidak cocok dengan masyarakat Indonesia, JKT48 akan menjadi sasaran kritik. Mereka bisa menjadi bulan-bulanan media, mendapat cap negatif, dan pasti akan segera tersingkir dari dunia entertainment Indonesia.


2. Daya Beli Fans Indonesia Yang Masih Rendah

Quote:

Salah satu faktor terbesar yang menjadi penentu kesuksesan AKB48 adalah penjualan CD, tiket, dan merchandise yang sangat laris. Bagi sebuah idol grup yang memiliki banyak member, kesuksesan penjualan produk mereka berperan sangat penting. Kelangsungan idol grup ini sangat bergantung pada penjualan produk, mengingat makin banyak member, makin banyak pula sebuah idol grup harus menghasilkan uang untuk membayar para member dan meng-cover ongkos produksi. Bahkan di Jepang saja, banyak idol group yang harus gulung tikar (bubar) karena mereka gagal menjual produk-produk mereka dan mengalami kebangkrutan.

Sejak tahun 2010, penjualan singel AKB48 selalu menembus angka satu juta kopi. Tak hanya itu, berbagai acara handshake, konser, dan teater selalu penuh oleh fans. Penjualan merchandise-pun laris manis, di mana para fans tak ragu untuk mengeluarkan puluhan ribu, bahkan jutaan Yen demi mendukung idola mereka.



Hal ini berbeda dengan kondisi JKT48 di Indonesia. Walaupun cukup bagus, yang jelas daya beli fans JKT48 di Indonesia tidak setinggi para fans AKB48 di Jepang. Harga CD, merchandise, DVD, dan tiket yang berkisar antara Rp 75.000,00 hingga 200.000,00 masih dirasa terlalu mahal bagi sebagian besar fans. Hal ini bisa dilihat di akun Facebook resmi JKT48, di mana cukup banyak fans yang menganggap harga- harga produk yang ditawarkan oleh idol mereka masih terlalu mahal.

Apa yang menyebabkan adanya perbedaan daya beli? Lagi-lagi kembali ke masalah kebudayaan. Di Jepang, fans AKB48 banyak yang berasal dari kalangan orang-orang dewasa yang sudah memiliki gaji tetap. Berbeda dengan para fans JKT48 di Indonesia, yang kebanyakan masih usia sekolah danbsebagian kecil masih kuliah. Sebagian besar fans JKT48 ini masih mengandalkan uang saku dari orang tua, dan tentu saja daya beli fans ini jauh lebih kecil dari para fans yang sudah memiliki gaji sendiri.

Mengapa hanya sedikit masyarakat Indonesia yang sudah bekerja dan berusia dewasa yang menjadi fans JKT48? Jawabannya kembali lagi ke faktor kebudayaan. Masyarakat Indonesia masih menganggap idol grup sebagai konsumsi remaja dan kurang pantas apabila orang yang sudah dewasa mengidolakan JKT48 (belum lagi anggapan sebagai pedofil dan hal-hal negatif lainnya). Singkatnya, secara kuantitas dan kualitas (terutama kualitas finansial), fans JKT48 masih tertinggal jauh dari fans AKB48.


3. Pembajakan

[quote]

Masalah ini adalah suatu masalah besar yang dihadapi oleh para artis, penyanyi, dan musisi di seluruh dunia. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, masalah ini jauh lebih serius dan lebih merugikan.

Ada dua hal utama yang menjadi penyebab maraknya pembajakan karya seni di Indonesia. Yang pertama adalah kurangnya kesadaran fans dan yang kedua adalah rendahnya daya beli. Karena tidak mampu (atau tidak mau) membeli produk-produk resmi JKT48 yang berharga mahal, ada beberapa fans yang memilih jalan pintas dengan membeli barang bajakan. Selain harganya lebih murah, kualitasnya pun tidak berbeda jauh. Tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa begitu banyak barang-barang JKT48 bajakan, mulai dari kaus, merchandise, CD, dan DVD yang bisa didapatkan dengan harga jauh lebih murah dari barang versi original. Bisa dipastikan, pembajakan ini memiliki efek sangat negatif bagi JKT48 secara finansial.

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh fans JKT48? Sebenarnya sangat simpel, jangan beli produk bajakan. Saat kita tergoda untuk membeli barang bajakan JKT48, sebaiknya kita berpikir ulang. Lebih baik, uang yang akan kita gunakan untuk membeli barang bajakan kita simpan, ditabung sedikit demi sedikit untuk membeli produk original. Ingat, memiliki satu produk original jauh lebih baik daripada memiliki ratusan barang bajakan.
[quote]

0 comments: