Searching...
Sunday, April 13, 2014

Is This The End? This Is The End

6:12 AM
Kedigdayaan akan berakhir seiring kekuasaan yang terlalu nyaman. Kekuatan dan kepintaran bakal diimbangi dengan keserakahan, keegoisan, hingga kemarahan. Mempertahankan suatu posisi tak semudah merebutnya. Anda akan dipaksa untuk berbuat di luar nalar untuk melakukannya. Ketika sudah
berhasil duduk nyaman di singgasana, akan muncul banyak masalah. Entah itu internal atau eksternal. Entah itu masalah besar atau masalah-masalah kecil yang dirasa tak terlalu berarti, tapi akhirnya mempengaruhi kinerja. Kekuasaan pun bakal jatuh dengan sendirinya dan berganti.

Manchester United. Tak ada celah bagi tim satu ini di Britania. Dipimpin oleh manajer paling brilian dan loyal, Sir Alex Ferguson, membuat Setan Merah tak terbendung. Singgasana sepakbola Inggris pun dikuasai dengan nyaman. Tak mengherankan jika Fergie akhirnya menjadi legenda hidup Setan Merah. Sekitar 28 trofi dari semua kompetisi telah dia angkat. Itu belum termasuk Community Shield.

Nama manajer Skotlandia ini kekal di Manchester karena prestasi yang telah dia berikan. Namanya diabadikan menjadi nama salah satu tribun di Old Trafford, Sir Alex Ferguson Stand. Salah satu nama jalan di sekitar Old Trafford yang
bernama Waters Reach juga diubah namanya menjadi Sir Alex Ferguson Way. Belum lagi patung sang legenda yang baru saja selesai dan terpampang di depan Old Trafford jelang akhir musim lalu. Namun pada akhirnya segala prestasi yang
dia catatkan kini telah menjadi sejarah. Sejarah indah. Fergie meninggalkan Man. United akhir musim lalu. Pergi dengan aman. Pergi dengan prestasi. Pergi secara terhormat.

Anda tentu tahu pengaruh Ferguson terhadap sepakbola Inggris mencapai asosiasi sepakbola mereka. Namanya terlalu besar untuk dilawan oleh asosiasi tersebut. Keagungan bak raja membuat seluruh pemain bergidik takut jikalau melakukan kesalahan. Pun dengan pengadil lapangan hijau yang malas
untuk berdebat dengan Ferguson, sehingga memilih untuk menguntungkan tim asuhannya. Fergie mengerti cara untuk menaikkan mental para pemainnya. Kepergiannya menjadi pe-er tersendiri bagi Man. United. Fergie memang sering terlihat di kursi VIP saat Setan Merah berlaga, tapi lebih banyak dengan muka masam. Alih-alih membantu David Moyes, sang manajer anyar, Fergie memilih untuk menjadi dosen anyar di Harvard University pada mata kuliah anyar, Bisnis Hiburan, Media, dan Olahraga.

Masih ingat pernyataan awal Ferguson saat baru menjadi manajer Man. United pada 1986? Sang manajer ingin melunturkan dominasi Liverpool yang saat itu sangat digdaya.Ada hasrat di matanya. Ada amarah di balik tiap kegagalan
Setan Merah. Pada awal kekuasaannya pun, kegagalan demi kegagalan menghampiri. Ia dihujat. Tapi pelan-pelan kesabaran itu membuahkan hasil. Hingga akhirnya kesuksesan tanpa henti terjadi sampai lebih dari 20 tahun.

Banyak fans memaklumi kiprah Moyes pada musim pertamanya, dengan alasan Ferguson juga tak berkiprah cukup baik pada musim perdana. Tapi, kesalahan mendasar dan mentalitas manajer anyar ini membuat dia amat sulit dibandingkan dengan Ferguson.Membandingkan musim pertama Ferguson dan Moyes memang tak adil. Keduanya memang sama-sama kesulitan pada musim pertama. Tapi, lihat di mana posisi Setan Merah pada 1986, sebelum Fergie datang? Ron Atkinson dianggap gagal hingga akhirnya dia digantikan Ferguson di tengah musim 1986/87. Man. United saat itu juga hanya langganan peringkat empat, sementara jumlah pemain-pemain berkualitas mereka saat itu bisa dihitung jari.

Di mana posisi Setan Merah saat 2013? Memiliki predikat juara bertahan. Pemain-pemain mereka pun cukup berkualitas, meski ada beberapa fans yang menganggap Fergie meninggalkan sebuah tim yang tak kapabel kepad Moyes. Bukan alasan. Toh musim lalu Fergie bisa juara dengan tim yang sama. Jika dibandingkan dengan pemimpin klasemen sementara saat ini, Liverpool, saya pribadi menganggap skuat Setan Merah lebih komplet, dalam, dan merata di semua lini.

Moyes tak terlihat memiliki hasrat. Moyes tak galak. Moyes terlihat tak memiliki identitas diri. Jika faktor mendasar seperti itu saja tak punya, bagaimana bisa ia memberikan identitas ke dalam skuat? Manajer pada dasarnya memang membutuhkan waktu untuk membangun tim. Jurgen Klopp dan Brendan Rodgers membuktikan hal itu di Borussia Dortmund dan Liverpool. Diego Simeone juga membuktikannya setelah berhasil membawa Atletico Madrid selevel dengan duo
penguasa Spanyol, Real Madrid dan Barcelona.

Tetapi berbeda dengan Moyes. Tak ada perkembangan mencolok dari Man. United musim ini. Sang gaffer sangat pintar memainkan tensi para suporter mereka sendiri. Ketika sedang diserang secara bertubi-tubi, tiba-tiba Man. United
menang dengan menyenangkan. Ketika fans sedang mencoba untuk percaya, hasil buruk kembali menghampiri. Duduk di peringkat tujuh, dari target utama awal musim menjadi juara, tak kaget jika fans Setan Merah cukup shock . Mereka tak terbiasa akan kegagalan. Mereka belum paham betul bagaimana cara membela tim yang sedang menjadi pesakitan.

Hal menarik lainnya adalah tak ada kesadaran diri. Ya, Man. United memang memiliki tradisi untuk memberikan waktu kepada manajer. Mereka bukan Chelsea yang sangat mudah bergonta-ganti manajer. Sayangnya, Moyes terlalu polos
untuk mengundurkan diri. Mungkin tak ada di benak sang manajer untuk menyerah, bukan karena dia tahu apa yang akan dia lakukan. Tetapi karena dia hanya mengikuti arus air yang ada. Tak perlu lah memaksakan tradisi jika kondisi sepak bola modern tak cukup mendukung. Man. United butuh sosok yang keras dan bisa menempeleng kepala para pemain dengan mudah. Bukan mencari sosok seperti Fergie, tetapi membutuhkan manajer yang lebih tegas, keras, dan disiplin.
Sekarang? Pemain saja tak takut dengan Moyes. Tak ada keseganan kepada sang manajer. WTF?

Jujur, prasangka awal mengapa Moyes masih memimpin Man. United adalah ajang Liga Champions. Anda tentu bisa membayangkan apa yang terjadi jika Setan Merah mengangkat trofi Liga Champions musim ini? Moyes akan sebanding dengan Rafa Benitez, yang mengangkat trofi yang sama pada musim pertama. Tak akan ada yang peduli dengan kiprah buruk Man. United di Premier League. Moyes akan lebih dihormati.

Sempat mempersulit FC Bayern pada leg pertama perempat final di Old Trafford, Moyes kembali mengecewakan para fans. Waktu yang tepat untuk menaikkan tensi dan emosi suporter. Sempat dipuja-puja dengan permainan brilian pada dua laga terakhir, Juan Mata dan Shinji Kagawa yang luar biasa melawan Newcastle United, Setan Merah dibanting secara keras oleh Bayern pada leg kedua, setelah sempat diberi harapan palsu lewat gol super Patrice Evra. Setan Merah takluk 1-3 dari laga itu, dan sang pencetak gol super tersebut juga terlibat dalam terjadinya ketiga gol lawan.

Setelah dipastikan finis di bawah Liverpool karena perolehan maksimal Man. United di Premier League hanya 72 poin (Liverpool sudah 74 poin), Setan Merah juga dipastikan tak akan mengangkat satu pun trofi besar musim ini. Apa? Iya,
saya tidak lupa, Moyes adalah sosok luar biasa yang langsung mengangkat Community Shield pada awal musim ini. Tetapi menjadikan �piring besar� sebagai alasan?

Belum lagi pengeluaran sebesar hampir 70 juta pounds untuk Marouane Fellaini dan Juan Mata yang efeknya tak terlalu mencolok. So, jika anda mengatakan bahwa skuat Moyes saat ini bukan keinginannya, cukup melihat dua pemain ini dan pemain-pemain berkualitas lain yang ada, Are u fuckin serious?

Tekanan dan hinaan yang datang juga bisa menjadi alasan mengapa Man. United harus memodernisasikan diri. Ketika mereka berada di peringkat tujuh dan mulai membicarakan sejarah, anda tentu tahu ada yang salah dengan tim ini. Jika
logika yang berbicara, maka waktu Moyes di Old Trafford tinggal lima laga lagi. Tetapi jika hati nurani yang jadi prioritas, maka bersiaplah untuk jadi seorang penyabar dan menunggu kebangkitan di bawah Moyes. Mudah-mudahan kiprahnya di Man. United tak se-"biasa" saat dia menukangi Everton 2002-2013. Mudah-mudahan.

Is this the end? This is the end.

0 comments: