Searching...
Tuesday, April 15, 2014

Kata-Kata yang Mungkin Telah Terlupakan Dalam Bahasa Minang Saat Ini

10:04 AM



Beberapa bulan yang lalu, saya pernah mendebat seorang teman yang berkata bahwa orang Padang tidak pernah bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Ia selalu merasa lucu jika bercakap-cakap dengan teman orang Padang karena bahasa mereka yang terlalu kaku baginya yang tidak berasal dari Padang. Kebiasaan orang Minang berbahasa Minang di dalam pergaulan sehari-hari, membuat logat orang Padang terasa kaku dan aneh ketika ia harus berbahasa
Indonesia di lingkungan yang memaksannya untuk itu.

Kesal dengan pernyataannya, lalu, saya bertanya kepadanya, bagaimana logat yang benar itu? Apakah seperti orang Betawai yang banyak pakai "e" di belakang kata, Sunda yang banyak memakai "ak" di belakang kata, atau Jawa yang
medok?

Ia diam saja ketika saya debat. Namun, di dalam hati saya tahu masalah dasarnya. Dahulu begitu banyak penulis asal Minangkabau yang mendominasi dunia sastra Indonesia. Namun, perlahan penulis-penulis etnis lain muncul dan
memasukkan kosakata mereka ke dalam bahasa Indonesia. Kosakata yang dulu pernah disumbang oleh orang Minangkabau perlahan menghilang baik dari bahasa tulis maupun tutur. Bahkan di ranah Minangkabau sendiri mereka
adalah sejarah.

Namun, tunggu dulu. Kata-kata itu hanya menghilang memori kita, tapi tidak dari memori bangsa. Setidaknya mereka masih ada di dalam kamus bahasa Indonesia. Berikut adalah sebagian dari mereka yang saya sisip ke dalam sebuah cerita fiktif.
...

Setiap hari saya ke kantor meracak ( mengendarai) mobil bersama dengan kanti (teman) saya. Bisanya kami bersirobok ( berjumpa/bersua ) di depan kompleks rumahnya. Namun, ada yang tidak saya sukai dari kanti saya ini. Setiap kali
bersirobok, ia selalu menekek ( menjitak ) saya. Di dalam mobil ia sangat lasak atau lesek ( tidak bisa tenang ), picit ( pencet) ini-itu. Setiap kali ia melakukan itu, saya harus memiuh ( memelintir) dan memirik ( mencubit ) lengannya. Kadang-
kadang ia membalas dengan melakak ( memukul ) saya. Bahkan kadang-kadang kue-kue yang saya bawa sebagai bekal makan siang sering linyak ( penyek, pipih ) ditindih badannya. Saya juga yang salah karena menaruhnya di atas
kursi.

Dengan suaranya yang garau ( parau), ia sering mengeluh tentang nasibnya yang selalu udi ( sial, malang ). Ia mengaku bahwa ia bingik ( iri) kepada saya yang entah kenapa garan ( gerangan) selalu ia pikir lebih beruntung. Padahal menurut
saya ia jauh lebih beruntung. Ia cerdas, cogah ( gagah ), tidak bongak ( sombong/bodoh ) ataupun uju ( pongah ). Badannya tinggi besar sehingga sering tersundak ( terbentur ) setiap kali keluar-masuk mobil saya. Satu hari ia pernah bercerita
kepada saya tentang keluarganya dan cerita itu membuat hati lintuah ( lunak).

Ia pernah bercerita bahwa ayahnya adalah lanun ( perampok) yang sering keluar-masuk penjara karena mencilok ( mencuri ). Di rumah mereka terlalu banyak anak yang harus diberi makan. Setiap anak selalu berebut makanan yang jumlahnya
tidak seberapa dan makan dengan cangok ( rakus ). Ia sering kali hanya sempat mengiyam ( mengenyam ) sedikit walaupun telah rasan ( basi ). Uang hasil cilokan ayahnya selalu disimpan di dalam belek ( kaleng besi ) dan ditanam di dalam tanah menggunakan tajak ( cangkul bertangkai lurus ). Isi belek itu selalu ia tukuk ( tambah sedikit-sedikit ) setiap kali ia pulang.

Setiap kali ayahnya pulang membawa hasil cilokan, ibunya menjadi berubah. Ia sering menggagau ( berteriak tidak karuan ) dan kadang-kadang seperti orang tengak ( bingung, hilang akal ). Tidak jarang ibunya mengejar bapaknya dengan
ladiang ( golok, parang ) dan jika bapaknya tidak terkejar, ia melampiaskan kekesalannya dengan menutuh ( memangkas ) tanaman apapun yang ada di dekatnya sehingga tarah ( rata ) semuanya. Lalu, setelah beberapa lama ia akan terduduk lepai ( lemah, lumpuh ) di parak ( kebun, ladang ) tetangga. Ketika
itulah, ayahnya selalu akan datang mendirus ( mengguyur) si ibu agar sadar kembali dan berjanji tidak akan melanun.

Tapi, setelah itu, ayahnya tetap kembali menjadi lanun, tidak pernah tobat. Mereka semua selalu terijuk ( kecewa ) oleh janji si ayah. Mungkin karena telah bosan dengan perangai ayahnya yang selalu icak-icak ( pura-pura) tobat, saat itulahsemangat ibu terlihat pudur ( padam ) dan ia membawa mereka
semua ke rumah nenek.
....

Saya yakin ada ribuan lagi kata-kata asli Minangkabau yangtelah lama dihimpun ke dalam kamus bahasa Indonesia(khususnya KBBI) sejak lama, namun tidak bisa saya temukan sendiri.

0 comments: