Searching...
Monday, April 28, 2014

MENGENANG IDRIS SARDI SANG BIOLA MAUT DARI INDONESIA

6:15 PM
Quote:No repost ya gan...

Spoiler for Bukti:


Tolong di biar g tenggelam

syukur2 dapat



Quote:

Quote:KATA MUTIARA DARI BELIAU

"Jangan panggil saya Maestro. Si Biola Maut juga tidak. Jangan coba-coba. Panggil saja saya Mas Idris. Saya ini masih belajar, masih banyak yang lebh baik dari saya. Dulu mungkin saya populer. Tetapi orang besar belum tentu orang populer, dan orang populer juga belum tentu orang besar"


Quote:Violis, komponis dan ilustrator musik untuk film, ini pantas digelari Sang Maestro Musik Indonesia.

Dia violis (musisi) Indonesia berkelas dunia. Pria kelahiran Jakarta, 6 Juni 1939, itu telah menggesek biola sejak usia enam tahun.

Dia bangga menggesek biola dengan sentuhan roh etnis Indonesia, meski dari kecil sudah terlatih dalam irama biola klasik Barat.


Quote:LATAR BELAKANG

Idris Sardi lahir dari keluarga berdarah seni. Dia mewarisi seni dari kakek dan ayah-ibunya. Kakeknya pemain musik di Keraton Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta. Sang ayah, M. Sardi, seorang pemain biola ternama, yang juga menjadi illustrator Sutradara film Indonesia. Ibunya, Hadidjah, seorang bintang film. Ilustrasi film Rencong Pejuang dari Aceh yang dibintangi ibunya, Hadidjah, adalah karya dari ayahnya.

Ketika anak sulung dari delapan bersaudara ini dalam usia enam tahun menggesek-gesek biola dan minta diajari, Sang ayah masih kurang mengacuhkannya. Namun, Violis, Komponis dan Ilustrator Musik
Idris Sardi kecil terus gigih belajar menggesek biola.

Kemudian pada usia delapan tahun, Idris merasa beruntung sudah berkesempatan belajar menggesek biola pada Nicolai Vorfolomeyeff. Nicolai, seorang musikus pelarian dari Rusia yang kala itu turut memimpin Orkes Radio Jakarta. Idris yang kala itu masih kelas III SD diterima Nicolai sebagai mahasiswa luar biasa Akademi Musik Indonesia (AMI) di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta.

Kala Idris masih bocah cilik sudah sangat sibuk. Dia praktis tidak menikmati kehidupan seperti bocah cilik lainnya, bermain klereng dan petak-umpet. Pagi hari dia harus ke RRI, sebelum ke sekolah. Siangnya kuliah sebagai mahasiswa luar biasa AMI. Sorenya ke RRI lagi.

Si bocah kecil, nan ajaib, yang masih memakai celana pendek, itu sudah lincah bermain biola, laksana Mozart dalam komposisi. Ketika usianya baru sepuluh tahun, pada 1949, Idris pertama kali berkesempatan ikut dalam konser Akademi Musik Indonesia (AMI) di Gedung Negara, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978) Yogyakarta.

Pada penampilan pertamanya itu, dia mendapat sambutan hangat dari penonton. Si bocah kecil, nan ajaib, yang masih memakai celana pendek, itu sudah lincah bermain biola, laksana Mozart dalam komposisi. Dia pun menjadi rebutan penontonnya, yang antre menyalami seusai pagelaran.

Di antara penonton dan gurunya yang ikut antre menyalami, juga ada ayahnya, M. Sardi. Sang ayah, tampaknya baru sadar atas bakat dan keahlian anaknya yang luar biasa, bahkan akan melebihinya. Sadar akan hal itu, Sang ayah, makin mendorong dan mendukungnya.

Ketika Sekolah Musik Indonesia (SMIND), Yogya, dibuka, tahun 1952, Idris pun diterima masuk walau sebenarnya persyaratan harus lulusan SMP atau yang sederajat. Padahal Idris belum lulus SMP, namun karena permainannya yang luar biasa, dia bisa diterima sebagai siswa SMIND tersebut.

Bahkan Nicolai Varvolomejeff, pimpinan orkes siswa SMIND, tahun 1952, telah mempercainya sebagai concert master, duduk bersanding para siswa usianya lebih tua dari dia, di antaranya violis Suyono.

Selain Nicolai Varvolomejeff, guru biola yang memoles Idris adalah George Setet di Yogyakarta (1952-1954) dan Henri Tordasi di Jakarta (1954), keduanya berasal dari Hongaria, negeri yang terkenal punya pemain biola unggul.


Quote:KARIER MUSIK

Kesungguhan belajar dan ditambah dukungan Sang ayah, tak sia-sia. Maka, ketika ayahnya, M. Sardi meninggal dunia pada 1953, Idris yang masih berusia 14 tahun sudah kompeten menggantikan kedudukan Sang ayah sebagai violis pertama merangkap pimpinan Orkes RRI Jakarta. Ketika itu, honornya Rp. 1.400, lebih tinggi Rp. 150 dari honor ayahnya.

Sejak itu, nama violis Violis, Komponis dan Ilustrator Musik
Idris Sardi semakin kesohor, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di mancanegara. Dia semakin mendalami dunia musik biola serius, idolisme Heifetz. Padahal, waktu itu belum ada musik serius yang bisa hidup sehat di Indonesia. Nicolai, gurunya, sendiri pernah mengingatkannya, agar dia siap kecewa, atau harus siap berkelana ke luar negeri.

Maka pada tahun 60-an, Idris mulai beralih dari dunia musik biola serius, idolisme Heifetz, ke musik biola bernuansa komersialisasi Helmut Zackarias, yang mengaung-ngaung. Akibatnya, para pengamat musik menudingnya sebagai pelacur musik dari dunia musik serius ke komersil.

Idris sendiri seorang seniman (musisi) berbakat hebat yang hidup dalam dunia nyata. Dia juga harus realistis. "Itu satu-satunya jalan pada waktu itu untuk tetap hidup pada profesi saya," kata Idrisi. Karena waktu itu, tipe Zackarias-lah yang bisa laku dan diminati publik. Apalagi di Indonesia, kala itu, belum ada musik serius yang bisa hidup sehat.

Seandainya dulu Idris Sardi belajar klasik terus pada tingkat kelas master dengan Jascha Heifetz atau Yahudi Menuhin, maka ia akan menjadi pemain biola kelas dunia setingkat dengan Heifetz dan Mehuhin. Namun, meskipun dia belum pernah belajar biola di luar negeri, ia tetap setingkat dengan Zacharias.

Orang Indonesia yang pernah belajar dengan Haifetz adalah Ayke (Liem) Nursalim, kini keadaannya tidak dapat main biola lagi akibat kram pada jari-jarinya, dan merupakan wanita pemain biola Indonesia yang pernah terpandang (dulu di usia 4 tahun/1955 di Yogyakarta sudah main di orkes).

Walaupun begitu, Sebagai putra Indonesia, Idris merasa malu jika tidak mampu memainkan musik keroncong. Apalagi ketika pulang ke Indonesia, dia bermain untuk stasiun Radio Republik Indonesia. Sejak itu, Idris melanggar aturan-aturan baku klasik. Dari kampung ke kampung, dia bertanya tentang musik keroncong. Bahkan Idris mengaku sempat belajar dari seorang tukang becak.


Quote:HASIL KARYA DAN PENGHARGAAN

Kemampuan musiknya tidak hanya dibuktikan di panggung. Lewat sejumlah karya layar lebar, Idris memberikan sumbangan besar. Sejak tahun 1960, dia telah menghasilkan lebih dari 300 karya. Film pertama yang memeberi Idris Sardi Piala Citra sebagai penata ilustrasi musik terbaik adalah film Petir Sepandjang Malam (1967).

Sejak itu, namanya mulai dikenal sebagai penata ilustrasi film. Ditambah dengan kemenanangannya di Festival Film Asia di tahun 1970, sebagai penata musik terbaik untuk film Bernafas Dalam Lumpur. Idris Sardi produktif dalam mengerjakan ilustrasi musik film, sampai mendapat rekor, dengan memperoleh nominasi Piala Citra FFI sebagai penata musik sebanyak 9 kali, disamping menang Piala Citra sebanyak 9 kali pula.

Beberapa film yang ia kerjakan ilustrasinya adalah Pesta Musik La Bana (1960), Perkimpoian (1972), Budak Nafsu (1983), Doea Tanda Mata (1984), Tjoet Nja Dhien (1987) dan Pacar Ketinggalan Kereta (1988). Idris juga membuat ilustrasi musik untuk 130 episode sinetron. Idris Sardi bersahabat dengan sutradara Teguh Karya. Keduanya seringkali berkolaborasi dalam sebuah film. Teguh, menyutradarai film, Idris mengerjakan ilustrasinya. Persahabatan ini terlihat dari tampilnya Idris Sardi dalam konser Tribute to Teguh Karya, tahun 2005 silam.

Idris sempat menderita sakit kanker usus di tahun 1998. Kemudian sepanjang tahun 2000, Idris kembali aktif dan menjadi duta kesenian pemerintah Indonesia, dan membuat konser Persembahan Idris Sardi di tahun 2003. Kedisplinan adalah kunci sukses utama Sang Biola Maut. Ilustrasi-ilustrasi dari biolanya yang begitu lirih dan menyayat hati begitu berkesan dan akan selalu teringat oleh penonton film Indonesia.

Filmografi

Spoiler for Filmografi:


Prestasi

Spoiler for Prestasi:


Trivia

Spoiler for Trivia:


Quote:
KEHIDUPAN PRIBADI

Ia juga ayah dari pemain film Santi Sardi dan pemeran muda Indonesia Lukman Sardi dari pernikahannya Zerlita. Setelah perceraiannya dengan Marini, Perkimpoiannya yang ketiga adalah dengan Ratih Putri.

Sardi mempunyai seorang murid yang telah sukses menjadi violis perempuan papan atas Indonesia, yaitu Maylaffayza Wiguna. Ia juga pernah terkenal karena memiliki tanda nomor kendaraan "B 10 LA" yang dapat dibaca "biola". Setelah hal ini dipublikasikan secara luas, ia merasa tidak nyaman karena menjadi perhatian masyarakat ke manapun ia pergi. Karena hal ini Sardi mengganti nomor kendaraannya dengan nomor biasa.


Quote:
MENINGGAL DUNIA



Idris Sardi meninggal dunia pada tanggal 28 April 2014 pukul 07:25 WIB di Rumah Sakit Meilia, Cibubur dalam usia 75 tahun menjelang usia 76 tahun. Idris Sardi menderita sakit pada lambung dan liver sejak Desember 2013. Sebelumnya Idris Sardi mengalami kondisi kritis sempat mendapat perawatan di RS Meilia, Cibubur.

Putri Idris Sardi, Santi Sardi, mengungkap penyebab meninggalnya sang ayah. Maestro violin berusia 75 tahun itu meninggal Senin (28/4) pagi karena sesak nafas.

Jenazah ayah dari Lukman Sardi itu disholatkan di Masjid Al-Hidayah, Bumi Cimanggis Indah, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Senin (28/4) siang.



Spoiler for Yang Terpenting:


Spoiler for sumur:

0 comments: