Searching...
Monday, May 19, 2014

(Inspiratif) Kisah Anak Desa: Saat Hidup Tak Seperti Anak-Anak Lainnya

12:05 PM
"Lahir dari keluarga miskin adalah bagian dari takdir, namun mati sebagai orang miskin adalah pilihan" - Yafaowoloo Gea



Saat mata menjelajah angkasa, terpampang indah bayangan masa kecilku terurai bagai lukisan hidup mengantar memori ke dalam mesin waktu menghempaskanku di suatu masa ketika Yafaowoloo kecil belajar membuat sejarah kehidupannya.

Tulumbaho, di sanalah aku dibesarkan di sebuah dusun kecil di Pulau Nias, sebuah pulau terpencil yang dulu dianggap sebagai tempat pembuangan bagi mereka yang dianggap sebagai pejabat kotor atau yang tidak sepaham dengan penguasa di masa itu.

Masa kecilku tidaklah ditaburi oleh mainan beraneka ragam, rumah bak istana ataupun makanan yang berlimpah. Yang kuingat, saat itu kami sekeluarga berbagi tempat minum dari tempurung kelapa yang dibentuk bak cangkir pualam, makan nasi yang dijatah hanya sekali sehari. Menu sarapan adalah pisang atau ubi rebus dengan campuran kelapa parut sembari membayangkan makanan empat sehat lima sempurna berlimpah seperti yang sering ditunjukkan oleh ibu guruku di sekolah. Siang hari kami juga masih memakan ubi atau singkong yang dikumpulkan oleh ibu dan kakak perempuanku dari kebun yang dijejali oleh berbagai macam tanaman. Kami bukan berhemat atau bergaya hidup sehat seperti yang dilakukan oleh orang-orang kaya saat ini yang suka makan pisang rebus akibat pantangan dari penyakitnya, kami melakukan ini karena tidak ada pilihan untuk dimakan.

Mainanku bukanlah play station atau gadget mahal yang sekarang ini sering kulihat bergelantungan bak yoyo di tangan anak-anak kecil, aku hanya bermain bola dari anyaman daun kelapa yang dijadikan (dianggap) sebagai bola kasti yang rasanya lumayan sakit bila terkena lemparannya.

Sepatu dan bajuku tidaklah bermerek yang bisa diganti setiap saat, yang kuingat seringkali aku ke sekolah dengan kaki baju di luar bukan karena aku berlagak preman, namun hanya untuk menutupi resleting celanaku yang lepas karena hanya dikaitkan dengan peniti kecil.

Saat aku terbangun di pagi hari, jemariku penuh dengan arang warna hitam ketika mengucek lubang hidungku akibat membaca menggunakan suluh atau lampu teplok dengan asap hitam dari sumbunya yang terbakar.

Satu hal yang kurasakan saat ini dan wajib kusyukuri bahwa aku tak pernah menyesal dilahirkan dari keluarga petani miskin dan menjalani kehidupan sulit di masa kecilku. Justru hal ini menjadi cambuk dan penyemangat bagiku untuk maju dan bangkit agar kelak anak-anakku tidak lagi merasakan hal yang sama seperti yang telah kualami.

Silakan dibaca goresan anak desa inspiratif lainnya di:
Saat Aku Harus Bekerja Mengais Puing Puing Rupiah
Sayap Sayap Patah
Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu
Baju Natal yang Berkesan
Jurusan Menentukan Masa Depan
Kesabaran Membawa Berkat

0 comments: