Searching...
Wednesday, May 21, 2014

Nubuat AKhir Zaman - Bagaimana mensikapi sebuah nubuat/ramalan?

10:04 PM




�Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.� Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, �Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.�




Adalah hal yang lumrah, seseorang dengan tingkat spiritual yang tinggi, memiliki kemampuan yang aneh-aneh, salah satunya, bisa menterawang masa depan, meskipun terawangan itu bukanlah terawangan yang spesifik macam ramalan pak dukun, biasanya berupa simbol-simbol yang hanya diketahui maknanya/jawabannya ketika ramalan itu telah terjadi

Bicara perkara ramalan, pastilah ada perdebatan, pro dan kontra, percaya dan tidak percaya, yakin dan tidak yakin, benar atau salah, karena bagaimanapun masa depan adalah misteri, or dikatakan rahasia tuhan, maka siapapun bisa meramal, samahalnya siapapun bisa mendongeng akan masa depan

Namun untuk ramalan yang ada dalam kitab suci, selama kita beriman kepadanya, maka ramalan itu adalah sebuah takdir, yang pasti terjadi, bicara perkara takdir, apakah bisa �diintervensi�? Tentu tidak! Maka perdebatan benar dan tidaknya ramalan itu otomatis tidak akan ada

Jika kita mempercayai kebenaran suatu ramalan, yang bagaikan takdir, maka bagaimana kita mensikapinya? Membiarkan masa depan terjadi begitu saja, toh sudah ditakdirkan akan terjadi, atau menjadikan ramalan itu sebagai pijakan/petunjuk untuk berbuat sesuatu, sebagai reaksi atas ramalan tersebut, Sebagai contoh, ramalan akan terjadi kehidupan yang ideal, atau justru sebaliknya, ramalan akan kehidupan yang tidak ideal dan penuh kekacauan

Ramalan adalah sebuah petunjuk or peringatan, samahalnya ramalan akan hari kiamat, agar manusia waspada, atas kondisi yang tidak ideal dan serba kacau, itulah ramalan akhir zaman, yang menjungkirbalikan idealisme kehidupan, benar jadi salah, salah jadi benar, hitam jadi putih, putih jadi hitam, dsb, maka bagaimanakah sikap kita atas peringatan tersebut? Menjadi tercerahkan, or tetap dalam keadaan ingkar? (Oh jadi ingat sang nabi pembawa kabar gembira dan peringatan)

Siapapun tidak suka kondisi tidak ideal, namun itulah yang terjadi di akhir zaman, itulah yang diramalkan, meskipun menjadi takdir yang tidak bisa diintervensi, namun tidak bisa kita berdiam diri dan pasrah, karena kita sudah mendapat peringatan dari tuhan, kecuali kita adalah orang yang ditakdirkan menjadi ingkar., karena kita tidak pernah tahu, apakah ramalan itu adalah untuk kita dan untuk saat ini, bisa saja ramalan itu merujuk pada kaum diluar sana, ataupun ramalan itu tidak terjadi pada saat ini

Semua serba misteri, dan reaksi kita atas ramalan itupun adalah bagian dari misteri, sehingga takdir (ramalan) itu tidak bisa diintervensi, karena tanpa disadari intervensi untuk merubah takdir kita pun adalah bagian dari misteri takdir itu sendiri

Namun yang pasti, tuhan tidak akan mengubah suatu kaum kecuali mereka sendiri yang memulainya, (lalu tuhan merestuinya), maka jangan bermimpi, kehidupan ini akan berubah dengan sendirinya, terlebih mengharapkan dan menunggu sosok penyelamat, yang bagaikan ksatria penunggang kuda putih, yang datang untuk membereskan segalanya, itu adalah dongeng delusional, dan mimpi kosong belaka

jika ingin merubah maka berubah lah, jika tidak suka dengan kondisi ideal, maka waspada dan lawanlah, jika menginginkan kondisi yang ideal, maka sambutlah, tidak bisa hanya bersikap menunggu, hanya karena percaya ramalan itu pasti terjadi, tanpa perlu intervensi (ingat, intervensi pun menjadi bagian dari takdir)

namun, selalu saja ada orang yang ingkar, bukan mengingkari (tidak percaya) dengan ramalan tersebut, melainkan tidak mau merespon/mengintervensi peringatan tersebut, ibarat orang yang buta mata hatinya, diberi jalan yang benar, tapi malah mengambil jalan yang salah, entah karena dikuasai nafsu, ataupun karena kurang ilmu, (oh, kaum ingkar selalu ada semenjak para nabi)

maka saat itulah ramalan menjadi nyata, ketika manusia sudah tidak menghiraukan peringatan tersebut, sehingga manusia dalam keadaan semakin sesat dan menyesatkan, kondisi akhir zamn yang tidak ideal, tatanan norma telah jungkir balik, dengan kata lain, justru manusialah yang menggenapi ramalan tersebut, dan bukan tuhan, dan bukan karena tuhan , dan bukan karena takdir tuhan, tuhan hanya menyampaikan saja, ramalan (peringatan masa depan) akan manusia ingkar yang sudah ditakdirkan (direstui) untuk menjadi ingkar

maka akankah kita menjadi kaum yang beriman, atau kaum yang ingkar?

Kitalah yang menggenapi ramalan itu, dan bukan tuhan

�Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.� Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, �Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.�

Akankah kita membiarkan tahun2 yang penuh tipu daya?
Akankah kita akan membiarkan para pendusta dan mempercayainya?
Akankah kita akan mengingkari dan mendustakan orang yang jujur?
Akankah kita akan membiarkan penghianat dan memberinya amanah?
Akankah kita akan mengingkari dan menghianati orang yang amanah?
Dan akankah kita akan membiarkan orang yang tidak berilmu berbicara atas nama dan mengurusi orang banyak?

Akankah kita akan menjadi bagian dari ramalan tersebut?
Sebagai seorang pendusta, penuh tipu daya, tidak amanah, ingkar, pengkhianat, dan tidak berilmu?

Ataukah kita akan mengamini ramalan yang sudah terjadi tersebut, menjadikannya sebagai petunjuk dan peringatan, dan menjadikannya sebagai pelajaran, dengan menunjuk seorang yang lurus, jujur, apa adanya, amanah, dapat dipercaya, dan berilmu?

Yang manakah takdir kita? Sebuah ramalan yang menjadi kenyataan ataukah ramalan yang menjadi pembelajaran?

(ingat kita tidak pernah tahu, untuk siapa dan kapan ramalan itu ditujukan)

Ingatlah wahai kaum yang beriman

Semoga mencerahkan

0 comments: