Searching...
Friday, May 30, 2014

Samsung Pilih Investasi di Vietnam

12:14 AM
Pemerintah Indonesia kembali menawarkan kepada perusahaan elektronik terbesar di dunia Samsung untuk menanamkan modalnya di sini. Samsung sudah memutuskan untuk mengembangkan pabrik ponselnya di Vietnam sebagai basis produksi untuk memasok kebutuhan ASEAN.

Kalau kita melihat Vietnam sangatlah jauh dibandingkan Indonesia. Vietnam praktis baru selesai menghadapi perang pada tahun 1975. Mereka pun baru membuka perekonomian dari investasi asing setelah patron mereka, Tiongkok membuka diri pada tahun 1989.

Perekonomian Vietnam masih jauh tertinggal di belakang Indonesia. Jumlah kelas menengahnya pun jauh di bawah Indonesia. Oleh karena itu pasar mereka sangat terbatas dan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN akhir tahun 2015 menjadi kesempatan bagi Vietnam untuk berkembang.

Tentu menjadi pertanyaan, mengapa Indonesia yang skala ekonominya lebih besar dan juga pasarnya lebih menjanjikan kalah menarik sebagai tempat investasi dari Vietnam? Bukan hanya Samsung yang bersikap seperti itu, tetapi Blackberry pun sebelumnya memilih untuk membangun industrinya di Malaysia.

Kita tentu tidak bisa sekadar menyalahkan Samsung atau Blackberry. Lebih baik kita melakukan introspeksi, apa sebenarnya yang menjadi kekurangan kita sehingga orang enggan berinvestasi di Indonesia?

Salah satu yang menjadi kelemahan kita adalah sikap kita kepada investor. Kita selalu memberikan janji yang manis kepada investor untuk menanamkan modalnya di sini. Tetapi setelah orang menanamkan modalnya, kita tidak memberikan pelayanan yang baik.

Kita dikenal bersahabat kepada orang yang mau menanamkan modalnya di Indonesia. Tetapi terhadap mereka yang sudah menanamkan modal dan bertahun-tahun menjalankan usahanya di sini, praktis tidak ada perhatian yang diberikan.

Investor yang sudah bertahun-tahun berusaha di Indonesia dibiarkan untuk berjalan sendiri. Kalau ada masalah yang dihadapi baik dengan pemerintah daerah atau pun buruh, mereka dipersilakan menyelesaikannya sendiri.

Dengan perlakuan seperti itu, maka tidak usah heran apabila pengusaha lain enggan untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Mereka pasti mendapatkan informasi, berusaha di Indonesia akan menghadapi situasi "kejarlah daku, kau ku tangkap".

Padahal kita tahu bagaimana sulitnya untuk bisa menarik investasi ke Indonesia. Seharusnya kita memperlakukan mereka yang sudah bertahun-tahun menanamkan modalnya di sini lebih baik daripada mereka yang baru berniat untuk berinvestasi.

Manfaat yang bisa dipetik untuk menjaga mereka yang sudah berinvestasi di Indonesia pasti lebih besar daripada mereka yang baru akan memulai investasi. Bukan hanya lapangan pekerjaan yang sudah pasti dirasakan oleh masyarakat, mereka pun pasti sudah membayarkan pajak dari hasil usahanya di Indonesia.

Inilah yang menjadi kelebihan negara-negara lain termasuk Vietnam. Mereka tidak pernah menerapkan prinsip "habis manis sepah dibuang". Mereka yang sudah mau menanamkan di negara mereka benart-benar dijadikan tamu terhormat.

Itu bisa dilihat dari bagaimana Pemerintah Vietnam memperlakukan PT Semen Indonesia yang mengakusisi 70 persen saham Thang Long Cement Vietnam. Pemerintah Daerah Quang Ninh, yang menjadi lokasi pabrik, memperlakukan Direksi PT Semen Indonesia sebagai tamu istimewa.

Perlakuan sebagai tamu istimewa bukan berarti dijamu yang serba wah. Jamuan yang diterima sangat sederhana dengan disuguhi jambu batu dan air jeruk. Tetapi di hari libur pun baik pimpinan partai lokal maupun pimpinan daerah mau datang untuk menerima pimpinan PT Semen Indonesia.

Tidak hanya berhenti dengan investasi yang sudah dilakukan, PT Semen Indonesia ditawari untuk mengembangkan bisnisnya di Vietnam. Mereka betul-betul memperlakukan investor sebagai pihak yang ikut memakmurkan provinsinya dan juga memekerjakan rakyatnya.

Dengan perlakuan yang begitu istimewa, tidak usah heran apabila investor lalu terpincut untuk menanamkan modalnya di Vietnam. Apalagi pemerintah sungguh-sungguh melaksanakan janjinya untuk membantu perusahaan berkembang dan bersama-sama menikmati hasil dari kemajuan perusahaan.

Segala kekurangan yang ada di Vietnam, tertutupi oleh perlakuan istimewa yang diberikan pejabat negeri itu. Bagi investor yang terpenting bagaimana mereka bisa berkonsentrasi untuk bisa bekerja dan mengembangkan perusahaannya.

Indonesia sebenarnya akan jauh lebih menarik apabila sikap dari para pejabatnya bukan seperti priyayi. Mereka harus menjadi marketing yang andal untuk menawarkan kemudahan berusaha dan memenuhi janji untuk memberikan ketenangan bekerja di Indonesia. Perubahan mental dari para pejabat negeri inilah yang harus dilakukan, apabila kita ingin menarik investasi besar masuk ke Indonesia.


0 comments: