Searching...
Tuesday, May 13, 2014

Siapa Cepat Belum Tentu Tepat

3:25 PM
nah lo siapa cepat dia dapat, 2 sekaligus malah hahaha
mungkin lebih baik demokrat ini bersanding degan Golkar aja ya, secara kemarin sempet ada pemberitaan ARB dan Anies cocok untuk mengalahkan Prabowo maupun Jokowi. Tapi siapa yang tau gan, kalo emang bener Demokrat lebih dulu dari Gerindra mendapatkan PKS dan PAN, ini bisa jadi bencana buat Prabowo. Dan kalopun Prabowo lebih dulu, Demokrat masih punya Golkar dengan capresnya yang mumpuni gan.

Quote:SBY Bisa Ganggu Koalisi Gerindra-PAN-PKS
Metrotvnews.com, Jakarta: Poros koalisi Partai Gerindra dapat terganggu oleh Partai Demokrat jika tidak segera mendeklarasikan para peserta poros koalisinya. Sebab kedekatan PAN dan PKS dengan Partai Demokrat bisa mengancam hubungan dengan Partai Gerindra.

"Partai Gerindra perlu segera meresmikan koalisinya, terutama dengan PAN dan PKS. Pasalnya dua partai tersebut bisa berubah karena faktor Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kuat sebagai rekan koalisi saat ini," jelas Direktur Riset Saiful Mujani Research and Consulting Djayadi Hanan kepada Media Indonesia, di Jakarta, Senin (12/5/2014).

Pascapengumuman hasil pemilihan legislatif, lanjut Djayadi, menjadi momentum yang tepat bagi partai politik untuk memutuskan koalisi dan mendeklarasikannya. Karena hal itu menjadi nilai tambah guna memberikan kepastian kepada masyarakat dan partai lain.

"Saat ini baru PDIP, Partai NasDem, dan PKB mengambil momentum melalui pengumuman bergabungnya PKB ke koalisi PDIP," ujarnya.

Ia mengatakan, Partai Gerindra harus secepat mungkin mendeklarasikan koalisinya, terutama bila bersama PAN, PKS, dan PPP. Sebab poros bentukan Partai Gerindra dapat diganggu oleh Partai Demokrat dengan tetap mengusung capres hasil konvensi.

"Bila Partai Gerindra tidak cepat mengikat partai peserta koalisinya, gerakan pak SBY dengan Partai Demokrat masih mungkin mengacaukan poros bentukan pak Prabowo. Karena bila memutuskan mengusung calon presiden (capres), Partai Demokrat dapat saja menarik dukungan PAN, PKS, PPP, sehingga menyulitkan Prabowo," paparnya.

Berbeda dengan Partai Golkar, imbuhnya, masih sibuk dengan pertentangan internal, dan masih menunggu Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas). Sehingga pergerakan Partai Golkar saat ini sulit untuk dimaknai selain dari upaya untuk penjajagan saja.

"Bisa saja Partai Golkar melenggang ke poros PDIP mendukung Jokowi dan membentuk koalisi pemerintahan.

Menurutnya, pascapengumuman rekapitulasi hasil pemilihan legislatif oleh KPU memberikan kepastian jumlah kursi masing masing partai. Hal tersebut menjadi basis formal partai politik dalam membentuk koalisi untuk pilpres.

Menurut Djayadi, pengerucutan poros koalisi tersebut pasca pengumuman real count hasil pemilihan legislatif oleh KPU. Seperti poros PDIP, Partai NasDem, dan PKB,jika disatukan memiliki sekitar 192 kursi. Berdasarkan jumlah kursi tersebut mampu untuk mendaftarkan calon presidennya mengikuti pilpres.

"Mengingat syarat yang mesti dipenuhi guna mendaftar calon presiden minimal partai pengusung atau gabungan partai politik memiliki 112 kursi DPR," jelasnya.

Ia mengatakan, sementara gabungan kursi poros Partai Gerindra, PAN, PKS dan PPP, juga sudah lebih dari cukup untuk maju mengikuti kontestasi pilpres. Akumulasi kursi dari keempat partai gabungan poros Partai Gerindra sekitar 199 kursi DPR.

0 comments: