Searching...
Wednesday, June 11, 2014

Asal Usul Kue Terang Bulan / Martabak Manis ( Hok Lo Pan )

3:45 PM


Keluarga JS-ku,
Sekadar membuat catatan sehubungan dengan thread tentang hal ini beberapa
hari yang lalu. Kalau kita nyimak, ketika sebagian teman-teman kita
melakukan wisata kuliner ke Bangka dan Belitung, cerita soal martabak manis
ini sudah muncul. Di bawah ini saya ceritakan ulang, sambil menambahi
beberapa info.
Di masa kecil saya di Padang, jajanan ini jamak disebut kue pangkalpinang.
Di Jakarta tahun 1970-an jajanan ini juga disebut kue pangkalpinang atau kue
rembulan. Di masa itu isinya hanya gula pasir dan wijen sangrai.
Disebut kue pangkalpinang karena memang asalnya dari sana, tepatnya di
Sungailiat. Seorang perantau dari Tiongkok membuat kue yang disebutnya hok
lo pan. Isinya wijen sangra dan gula pasir. Karena terkenal enak, maka
menyebarlah ke mana-mana.
Seingat saya, pada awal 1980-an terjadi "ledakan kreativitas" terhadap
jajanan ini. Di Jakarta mulai banyak bermunculan penjual kue pangkalpinang
di pinggir jalan dengan nama baru: martabak manis. Isinya pun mulai
bervariasi, yaitu ada pilihan isi kacang tanah tumbuk. Kemudian muncul pula
versi baru berisi keju. Sekarang, malah ada yang isi duren, dll.
Martabak San Francisco yang terkenal di Bandung pada awalnya adalah seorang
pria perantau dari Bangka. Ia menikah dengan seorang perempuan keturunan
Tionghoa pula, asal Solo. Sekarang, warungnya sudah besar sekali dan
jualannya pun macam-macam.
Salam,
Bondan Winarno


Teman-teman Jsers,
Narasi Pak Bondan sungguh tepat dan sedikit membuka beberapa nostalgia
dengan cerita kakek buyutku dulu.
Memang di Bangka, kedatangan suku Bangsa Hokkian/ Hoklo termasuk kloter
terakhir dan membawa cerita cerita yang cukup mengenaskan (Kebanyakan
pendatang dari Cina ke Bangka berasal dari suku bangsa Khek/Hakka yang
banyak menjadi kuli timah).
Suku Bangsa Hokkian yang mendarat di Bangka, pada waktu perjalanan di laut ,
mendapat banyak bencana dan mereka mendarat di Bangka setelah hari ke
sembilan sesudah perayaan imlek (sehingga, khusus bagi orang-orang hokkian
di Bangka, mereka merayakan imlek/ kongian selalu lebih meriah di hari ke
sembilan, biasanya banyak makanan-makanan enak yang baru dikeluarkan pada
saat tersebut).
Karena mereka datang paling terakhir, banyak peluang yang sudah diambil oleh
yang datang terlebih dahulu. Sehingga untuk bertahan hidup, mereka haruslah
menerapkan semangat survival yang hebat, yang mungkin bagi orang-orang lain
dapat menilai sebagai sifat yang kikir, dll (ada idiom di antara orang
tionghoa di Bangka : orang hoklo adalah cina pantat merah, karena saking
kikirnya. Makanan sehari-harinya adalah bubur cair). Semangat komunal mereka
sangatlah tinggi, karena bahasa yang berbeda dialeknya, dan mereka biasanya
tinggal dirumah yang panjang (chongbuk) yang berisi beberapa keluarga (anak
yang sudah menikah masih mengikuti orang tua, pada beberapa keluarga yang
saya kenal, bahkan bisa 3 generasi masih tinggal di satu chongbuk). Mata
pencaharian utama orang hoklo di Bangka adalah berdagang, sehingga dalam
waktu singkat, mereka kebanyakan menjadi orang-orang kaya.
Hoklopan, adalah salah satu makanan yang mungkin sudah ada di tradisi orang
hokkian, tetapi mengalami beberapa penyesuaian dengan beberapa selera
kebanyakan orang-orang di Bangka pada waktu itu (sama seperti semangat
dagang orang madura menjual sate ayam madura, yang berusaha untuk
menyesuaikan dengan selera konsumen).
Memang yang pertama menjual hoklopan adalah orang sungailiat (35 km dr
Pangkal Pinang), tetapi dia menjualnya di pangkal pinang, sehingga bisa
terkenal sebagai kue pangkalpinang, dan karena asal usulnya orang hokkian,
dikenal juga sebagai hoklopan (kue orang hoklo), atau juga kue terang bulan
karena bentuknya bulat dan kuning.
Biasanya penjual hoklopan selalu bergandengan dengan penjual teh
chrisantenum.
Masalah tebal tipisnya kue hoklopan ini adalah relatif, biasanya untuk yang
tipis, kita harus special order dan lebih mahal harganya.
pada waktu SMP dulu, saya sering taruhan dengan teman-teman, siapa yang bisa
menghabiskan hoklopan paling banyak. Trik yang paling sering dipakai adalah
: special order : 2 porsi hoklopan di buat menjadi 1 porsi, yang rasanya
pasti bikin kenyang seketika.
Martabak San Francisco, memang dikembangkan oleh orang Bangka dari Belinyu
(dekat desa Gedong), setelah menjadi orang sukses, beliau adalah salah satu
penyandang dana terbesar untuk membangun kolong bekas tambang timah menjadi
area wisata Phak Khang Liang di Belinyu.
Hoklopan bagi orang Bangka, adalah salah satu icon dagang yang penting di
perantauan (seperti sate bagi orang Madura, rendang bagi orang padang), yang
rasanya menjadi bermacam-macam dan disesuaikan dengan selera konsumen.
Di Jakarta, khususnya Jakarta Barat, salah satu penjual Martabak Bangka yang
masih bersedia membuat martabak versi wijen dan gula dan rasanya otentik dan
'boleh tahan' adalah : Martabak Henry di daerah Puri Indah (jualan di dekat
resto rasane, sudah berkali-kali pinlok karena tergusur). Susu kedelai (theu
fu sui) nya juga mantap.
salam,
irvan



https://groups.google.com/forum/#!to...ra/3XuPf_SBEwg

0 comments: