Searching...
Monday, June 9, 2014

Sambut Piala Dunia, Kekuatan Grup G

9:32 AM
Website Bola Terbaru

Siap nonton Piala Dunia 2014?
Berikut kami sajikan kekuatan grup per grup dari sajian http://football-indonesia.net/

Kali ini dari Grup F. Inilah kekuatan yang akan kita temui.

Jerman
Jerman : Panser (Masih) Muda yang Siap Menggilas

Siapa tim asal Eropa paling diidolakan di Piala Dunia Brazil 2014 nanti? Jerman adalah yang terbanyak. Penjawab Jerman tentu merujuk pada kualitas tim yang merata, kuat, dan tentu saja segar.

Empat tahun lalu Joachim Low tampil di Afsel dengan darah muda yang sungguh memesona. Meninggalkan Ballack di rumah, Jerman tampil beringas dengan kemenangan atas Argrntina yang tak terlupakan pecinta bola dunia. Bagaimana mungkin tim sekelas Argentina diberondong empat gol oleh anak-anak muda Jerman yang tebar pesona di sana.

Maka tampillah nama baru semisal Mesut Ozil, Sami Khedira, Thomas Muller, dan Mario Gomez jadi jago baru tim yang terkenal dengan nama Backenbauer, Klinsmann, Scholl, Efenberg, Ballack, dll. Aksi itu kemudian dibayar kontan dengan kontrak yang berdatangan pada para punggawa Jerman saat itu. Khedira dan ozil ditebus dengan mahal oleh Real Madrid ketika itu.

Dua tahun kemudian, di Piala Eropa 2012, Jerman lebih diidolakan lagi dengan parade kemenangan mereka sejak babak kualifikasi. Sayang kedigdayaan mereka terhenti di hadapan Italia. Balotelli saat itu gagal dibendung Mats hummels yang memudahkannya mengoyak jala Manuel Neuer.

Kini Ozil dkk menuju fase emas usia mereka. Walau tetap ada sentuhan lawas Philipp Lahm, Per Mertesacker, Nbastian Schweinsteiger, dan si gaek Miroslav Klose, Jerman tetap berjiwa muda mengingat banyaknya talenta energik muda yang menghiasi tim.

Nama seperti Mario Gotze, Toni Kroos, Marco Reus, dan Andre Schurrle tentu ingin membuktikan dirinya di tim spesialis turnamen besar ini. Selepas Piala Eropa 2004, Jerman selalu jadi favorit di dunia. Menarik ditunggu rilis akhir tim ini, karena Der Panzer hanya mengundang dua nama penyerang (Klose dan Podolski) dalam pemusatan latihan terakhir dengan membuang nama Mario Gomez dari daftar pemain. Entah rencana apa yang disiapkan Low dengan mengumpulkan banyak gelandang di skuad saat ini. Mungkinkah meniru Spanyol dengan false nine-nya?

Di Brazil sendiri, persaingan Jerman di Grup G akan sangat kompleks dengan kekuatan negeri sang pemain terbaik dunia Ronaldo di hadapan. Lepas dari Portugal, Amerika Serikat dan Ghana siap menjajal keampuhan racik coach Low. Terlebih di laga lawan Ghana akan ada pertarungan antar dua saudara Boateng yang beda kewarganegaraan. So, siap panser siap menggilas lawan yang mengadang di depan. (ds-ejr).

Skuad Jerman

Kiper: Manuel Neuer (Bayern Munich), Roman Weidenfeller (Borussia Dortmund), Ron-Robert Zieler (Hannover).

Belakang: Jerome Boateng (Bayern Munich), Erik Durm, Kevin Grosskreutz (both Borussia Dortmund), Benedikt Howedes (Schalke), Mats Hummels (Borussia Dortmund), Marcell Jansen (Hamburg), Philipp Lahm (Bayern Munich), Per Mertesacker (Arsenal), Shkodran Mustafi (Sampdoria), Marcel Schmelzer (Borussia Dortmund)

Tengah: Lars Bender (Bayer Leverkusen), Julian Draxler (Schalke), Mario Gotze (Bayern Munich), Leon Goretzka (Schalke), Andre Hahn (Augsburg), Sami Khedira (Real Madrid), Toni Kroos (Bayern Munich), Max Meyer (Schalke), Thomas Muller (Bayern Munich), Mesut Ozil (Arsenal), Marco Reus (Borussia Dortmund), Andre Schurrle (Chelsea), Bastian Schweinsteiger (Bayern Munich), Kevin Volland (Hoffenheim), Matthias Ginter (Freiburg)

Depan: Lukas Podolski (Arsenal), Miroslav Klose (Lazio).

Portugal
Portugal â?? Tak Boleh Andalkan Satu Tombak

Brazil dari Eropa, itulah julukan yang disematkan fans pada Portugal. Di era lalu memang permainan kolektif mereka yang indah dan cepat sungguh menjanjikan. Apalagi, generasi emas mereka sempat hampir menguasai Eropa kalau saja Yunani tak menjungkalkan mereka di rumahnya sendiri dalam Piala Eropa 2004.

Tim yang kini ditukangi Paolo Bento ini saat itu diisi nama hebat Vitor Baia, Abel Xavier, Fernando Couto, Paolo Saosa, Luis Figo, Sergio Conceicao, Rui Costa, Pauleta, dan Nuno Gomez. Dengan desain warna yang diadopsi timnas Indonesia saat ini plus rambut klimis para pemain ketika itu, Portugal sempat jadi idola.

Portugal memang tak jauh menurun sejak era itu. Namun kemudian gaya permainan berubah. Kalau dulu dibilang Brasil-nya Eropa, yang ada kini adalah bagai argentina era Batistutanya Eropa. Sepanjang laga adalah permainan monoton untuk menjaga kondisi, dan bergerak seketika mengoptimalkan kekuatan sang maha bintang Christiano Ronaldo.

Yah, bicara Portugal kini kita tak bisa lepas dari sosok Ronaldo atau CR7. Kehebatannya di ranah klub sukses dibawanya ke timnas negaranya yang kini tak banyak diisi nama besar model era Figo cs.

Koneksinya dengan punggawa Real Madrid lainnya seperti Fabio Coentrao dan Pepe dimanfaatkan untuk menjaga keutuhan tim dalam bertahan dan dukungan Joao Moutinho dan Raul Meireles akan ditujukan pada sang maestro semata.

Apapun kritik yang datang, Portugal masih bisa tebar pesona di Piala Eropa 2012 lalu. Semifinalis bukanlah hal buruk. Namun ketergantungan pada sosok Ronaldo harus dipikirkan lebih lanjut oleh Portugal. Nama besar yang ada di depan juga hanya Helder postiga, yang sayangnya hanya mengisi ruang rawat Lazio dalam satu semester terakhir.

Grup G yang jadi ajang mereka akan sangat ketat. Hadirnya panser jerman yang kuat dan punya persaingan tinggi dengan Portugal belum akan selesai setelah laga antara keduanya, karena Kamerun dan Amerika Serikat yang ada di sana juga tak kalah seram potensinya.

Akankah Portugal terpuruk seperti di Afsel 2010? Akankah hasil buruk di pra piala dunia yang memaksa mereka saling bunuh dengan Skotlandianya Ibrahimovic terus memayungi? Kita tunggu saja kiprah Portugal dan Ronaldo di Piala Dunia Brazil 2014 tentunya. (ds-ejr).

Skuad Portugal

Kiper: Beto (Sevilla), Eduardo (Braga), Rui Patricio (Sporting).

Belakang: Andre Almeida (Benfica), Bruno Alves (Fenerbahce), Fabio Coentrao (Real Madrid), Joao Pereira (Valencia), Neto (Zenit), Pepe (Real Madrid), Ricardo Costa (Valencia).

Tengah: Joao Moutinho (Monaco), Miguel Veloso (Dynamo Kiev), Raul Meireles (Fenerbahce), Ruben Amorim (Benfica), William Carvalho (Sporting), Vieirinha (Wolfsburg), Rafa (Braga).

Depan: Cristiano Ronaldo (Real Madrid), Eder (Braga), Helder Postiga (Lazio), Hugo Almeida (Besiktas), Nani (Manchester United), Silvestre Varela (FC Porto).


Amerika Serikat
Amerika : Tak Populer Namun Berbahaya

Bicara industri olahraga dan Amerika serikat, tentu Anda tak akan terlalu memperhitungkan sepakbolanya. Bukan hanya Anda atau saya yang mungkin bukan warga negara Amerika, warga mereka sendiri terkenal tak terlalu memperhatikan persepakbolaan Negeri Paman Sam itu. Propaganda MLS nampaknya belum bisa meruntuhkan hegemoni basket dan baseball di negeri adi daya yang jadi kiblat tren dunia lewat film dan industrinya yang kuat.

Namun, itulah hebatnya negeri ini. Walau dinomorduakan bahkan mungkin tergeser hingga kita katakan dinomorsepuluhkan mungkin, pembinaan yang berlangsung di sana tak main-main. Coba tengok kekuatan MLS untuk mendatangkan bintang dunia yang bahkan seolah mengubur bakat Thiery Hendry dan David Beckham. Pun kekuatan tim nasionalnya tak dapat dicerca sedemikian rupa.

Tengok saja di Afse 2010 lalu, di mana tim ini bisa berbicara banyak ketimbang Inggris yang rontok di fase grup. Pun nama besar beberapa pemain menghiasi skuat yang sekarang ditangani nama sebesar Jurgen Klinsmann.

Clint Dampsey dan London Donovan jua kita kenal namanya karena sudah beredar sejak beberapa gelaran lalu. Nama-nama itu akan menemani skuad muka baru yang akan tebar pesona di Brazil. Karakter Amerika yang tentu ngotot jadi sesuperior negaranya akan melecut tim ini bukan hanya jadi penggembira tapi kuda hitam yang siap merontokkan ramalan para pengamat.

Juga kita ketahui bersama karakter Klinsmann yang berbasic penyerang di masa kejayaannya sebagai pemain. Tentu tim ini akan semakin ciamik tampilannya. Mari kita simak bersama sejauh mana mereka menggebrak. Toh Amerika-Brazil yang masih setanah akan memudahkan mobilisasi suporter mereka untuk mendukung. Kita tunggu saja. (ds/ejr)

Skuad Amerika Serikat

Kiper : Brad Guzan (Aston Villa/ENG), Tim Howard (Everton/ENG), Nick Rimando (Real Salt Lake)

Belakang: DaMarcus Beasley (Puebla/MEX), Matt Besler (Sporting Kansas City), John Brooks (Hertha Berlin/GER), Geoff Cameron (Stoke City/ENG), Timmy Chandler (Nurnberg/GER), Brad Evans (Seattle Sounders FC), Omar Gonzalez (LA Galaxy), Clarence Goodson (San Jose Earthquakes), Fabian Johnson (Hoffenheim/GER), Michael Parkhurst (Columbus Crew), DeAndre Yedlin (Seattle Sounders FC)

Tengah: Kyle Beckerman (Real Salt Lake), Alejandro Bedoya (Nantes/FRA), Michael Bradley (Toronto FC), Joe Corona (Club Tijuana/MEX), Brad Davis (Houston Dynamo), Mix Diskerud (Rosenborg/NOR), Maurice Edu (Philadelphia Union), Julian Green (Bayern Munich/GER), Jermaine Jones (Besiktas/TUR), Graham Zusi (Sporting Kansas City)

Depan: Jozy Altidore (Sunderland/ENG), Terrence Boyd (Rapid Vienna/AUT), Clint Dempsey (Seattle Sounders FC), Landon Donovan (LA Galaxy), Aron Johannsson (AZ Alkmaar/NED), Chris Wondolowski (San Jose Earthquakes)


Ghana
Ghana : Si Raja Afrika

Melihat judul, mungkin tak relevan dengan juara Piala Afrika gelaran akhir, namun saya menyematkan predikat raja pada pasukan Afrika terdepan di gelaran piala dunia lalu. Kita tentu ingat bagaimana serunya daya juang Asamoah Gyan di Piala Dunia 2010 yang betul-betul menohok setiap lawan dengan penuh percaya diri.

Kalau saja Luis Suarez tidak mengintervensi bola dengan tangannya, kalau saja wasit membiarkan gol itu tetap gol, tentu Ghana akan lolos ke empat besar gelaran sebelumnya. Tapi kemarin dan hari ini berbeda. Pelatih Kwesi Appiah tentu akan terobsesi hasil lebih jauh di gelaran kali ini.

Ghana tentu bukan Sinegal yang hanya sekali menggigit kemudian melempem. Deretan bintang di dalam skuad memberi keyakinan kalau Ghana akan menyengat dengan lebih ganas kali ini, terutama untuk perwakilan Afrika.

Nama besar Essien yang mulai redup masih akan dicover oleh Muntari, Prince Boateng, dan tentu saja Gyan yang tajam dan penuh percaya diri. Plus nama baru semisal Andre Ayew yang mungkin akan menebar pesona dirinya bersama belasan wajah baru lainnya untuk karier yang lebih baik di Eropa ke depannya.

Kita saksikan bersama saja bagaimana aksi mereka nanti. Tentu semua mengharapkan hasil terbaik, namun keberuntungan dan nasib yang akan jadi penentu guratan mereka atas sejarah musim panas di Brazil kali ini.

Menarik juga melihat nasib Boateng mana yang akan lebih beruntung, milik Jerman atau Ghana. Kedua saudara ini akan berjibaku dalam grup yang sama plus sengatan sang mahabintang Christiano Ronaldo bersama Portugalnya dan Amerika Serikat yang kata Sutan Bhatoegana cukup ngeri-ngeri sedap. (ds-ejr).

Skuad Ghana

Kiper: Adam Larsen Kwarasey (Strømsgodset/NOR), Fatau Dauda (Orlando Pirates/RSA), Stephen Adams (Aduana Stars)

Belakang: Samuel Inkoom (Platanias/GRE), Daniel Opare (Standard Liege/BEL), Harrison Afful (Esperance/TUN) Jeffery Schlupp (Leicester City/ENG), John Boye (Renne/FRA), Jonathan Mensah (Evian/FRA), Rashid Sumaila (Mamelodi Sundowns/RSA), Jerry Akaminko (Eskisehirspor/TUR)

Tengah: Michael Essien (AC Milan/ITA), Sulley Ali Muntari (AC Milan/ITA), Rabiu Mohammed (Kuban Krasnodar/RUS), Kwadwo Asamoah (Juventus/ITA), Emmanuel Agyemang Badu (Udinese/ITA), Afriyie Acquah (Parma/ITA), Andre Ayew (Marseille/FRA), Mubarak Wakaso (Rubin Kazan/RUS), Christian Atsu Twasam (Vitesse/NED), Albert Adomah (Middlesbrough/ENG), David Titi Accam (Helsingborg/SWE)

Depan: Asamoah Gyan (Al Ain/UAE), Kevin-Prince Boateng (Schalke/GER), Abdul Majeed Waris (Valenciennes/FRA), Jordan Ayew (Sochaux/FRA)

Sumbernya Ini

http://football-indonesia.net/

Ayo bicara piala dunia di longue dulu.... tak kasih buat komentar okeh.

0 comments: