Searching...
Wednesday, June 4, 2014

Terobosan Chairil Tanjung

9:55 PM
Laporan bulanan yang disampaikan Badan Pusat Statistik menunjukan bahwa tekanan ekonomi masih harus terus kita hadapi. Terutama tekanan terhadap neraca pembayaran masih terus terjadi. Akibatnya, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan dan berada posisi Rp 11.750 per dollar AS.

Salah satu yang menyebabkan defisit perdagangan adalah tingginya impor minyak dan gas. Impor minyak tidak terhindarkan untuk terus meningkat karena konsumsi cenderung bertambah, sementara produksi minyak dalam negeri cenderung menurun.

Selain faktor meningkatnya impor baik minyak dan juga bahan pangan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah disebabkan terbatasnya likuiditas di dalam negeri. Penerimaan negara cenderung tidak memenuhi target, sehingga pemerintah terpaksa mengurangi belanja kementerian dan lembaga negara.

Di tengah perlambatan ekonomi yang terus terjadi, maka tekanan pada neraca pembayaran harus dipecahkan. Tanpa ada terobosan terhadap neraca pembayaran, maka dampaknya bukan hanya kepada pelemahan nilai tukar rupiah, tetapi yang kepada tingkat pertumbuhan.

Menarik untuk menyimak pilihan solusi yang ditawarkan Menteri Koordinator Perekonomian yang baru yaitu Chairul Tanjung. Ia melihat dua hal yang perlu dilakukan untuk memberikan sinyal positif kepada perekonomian, yaitu pembenahan di sektor hulu migas dan mendorong peningkatan penerimaan negara.

Memang kendala yang dihadapi oleh Chairul Tanjung adalah waktu. Hanya tinggal tersisa lima bulan bagi dirinya sebagai Menko Perekonomian yang baru untuk bisa mengambil sebuah keputusan yang bermanfaat bagi kepentingan nasional.

Namun dengan latar belakang sebagai pengusaha, tidak ada yang tidak mungkin. Sikap seorang pengusaha adalah membuat segala sesuatu selalu bisa dikerjakan dan menghasilkan sesuatu yang positif bagi perkembangan organisasinya. Sikap get things done itulah yang coba diterapkan Chairul Tanjung di Kantor Menko Perekonomian.

Chairul ingin di sisa waktu ini, ada tindakan nyata yang bisa dilakukan. Untuk menekan impor minyak, maka eksplorasi migas akan ditingkatkan. Salah satu yang coba diselesaikan Chairul adalah memperlancar rencana eksplorasi Chevron Pacific di Selat Makassar.

Eksplorasi di laut dalam ini sudah lama direncanakan oleh Chevron. Mereka akan menanamkan modal sekitar 12 miliar dollar AS untuk melakukan eksplorasi di tempat itu. Persoalan yang selama ini dihadapi adalah lambatnya persetujuan izin untuk bisa melakukan eksplorasi.

Chairul mencoba memecahkan masalah perizinan itu dengan tiga pendekatan. Pertama adalah membangun komunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat. Kedua, melakukan koordinasi agar segala hambatan bisa diselesaikan. Ketiga melakukan implementasi agar kegiatan eksplorasi bisa dilakukan.

Apabila rencana investasi Chevron bisa berjalan, maka ini akan menjadi model bagi pengembangan eksplorasi di wilayah yang lain. Ini akan membangkitkan kembali pengembangan industri hulu dan pada akhirnya akan mampu meningkatkan produksi minyak di dalam negeri.

Sementara untuk kepentingan peningkatan penerimaan negara, langkah yang dilakukan Chairul adalah memecahkan kebuntuan pengembangan industri pemurnian mineral. Selama ini para pemegang kontrak karya maupun izin usaha pertambangan keberatan membangun smelter, karena ada kebijakan bea keluar yang dianggap memberatkan pengusaha.

Kebijakan yang diberlakukan sejak 12 Januari 2014 ini membuat ekspor mineral benar-benar terhenti. Akibatnya dalam lima bulan terakhir ini sekitar 4 miliar dollar AS penerimaan negara dari ekspor mineral tidak masuk. Inilah yang menyebabkan tersendatnya likuiditas.

Kebuntuan ini ditembus oleh Chairul Tanjung. Ia meminta para pemegang kontrak karya untuk menempatkan dana sebagai jaminan pembangunan smelter. Sebagai imbalannya pemerintah menurunkan bea keluar, sehingga ekspor mineral bisa kembali dilanjutkan.

Selain pemasukan dari ekspor mineral, upaya peningkatan penerimaan negara coba dilakukan. Tujuannya adalah bagaimana perekonomian bisa kembali bergerak, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa didorong. Harapannya, perekonomian akan mendapatkan momentum untuk perbaikan.

Sebaliknya, pengeluaran pemerintah dicoba dikendalikan agar defisit pembayaran tidak semakin membengkak. Pengurangan anggaran kementerian dan lembaga sebesar Rp 100 triliun terutama ditujukan untuk belanja yang bisa ditunda agar postur APBN bisa diselamatkan.

Menarik melihat langkah terobosan yang coba dilakukan Chairul Tanjung. Kita tentu berharap semua rencana itu bisa dilaksanakan, agar menggairahkan kembali perekenomian nasional yang tersendat terutama menjelang Pemilihan Presiden sekarang ini.


0 comments: